Saat Gotong Royong Menjadi Kekuatan Pemulihan
Pidie Jaya dan Aceh Utara. Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh Utara tidak hanya meninggalkan genangan air, tetapi juga memutus akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih, pangan, dan rasa aman. Ribuan warga terdampak harus menghadapi kondisi sulit ketika rumah, lingkungan, dan sumber air mereka tertutup lumpur pascabanjir.
Di Desa Blang Dalam, Pohroh, Alue Keutapang, dan Matang Kumbang, sumur-sumur warga yang menjadi sumber utama kebutuhan sehari-hari tidak lagi dapat digunakan. Situasi tersebut semakin berat bagi kelompok rentan, seperti perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas, yang menghadapi risiko lebih besar dalam kondisi darurat.
Melalui dukungan Pooled Fund KSO, Yayasan Perempuan dan Anak Negeri (YPANBA) bersama relawan lokal hadir mendampingi masyarakat dalam proses pemulihan. Selain menyalurkan lebih dari 600 paket sembako kepada keluarga terdampak, tim juga membantu normalisasi sumber air bersih dengan menyediakan mesin pompa dan peralatan operasional untuk membersihkan sumur warga yang terendam lumpur.
Upaya tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Secara bertahap, sumur-sumur yang sebelumnya tidak dapat digunakan kembali berfungsi, sehingga warga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan air bersih dari luar daerah.
Namun, bagi YPANBA, pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik. Selama proses distribusi bantuan, tim juga mengadakan diskusi bersama warga mengenai perlindungan perempuan dan anak, pencegahan kekerasan berbasis gender, serta informasi terkait layanan pengaduan yang dapat diakses apabila masyarakat membutuhkan pendampingan dan perlindungan.
Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap penyintas, khususnya kelompok rentan, tetap memperoleh haknya atas perlindungan, partisipasi, dan akses terhadap layanan yang dibutuhkan selama masa pemulihan.
Bagi YPANBA, respons kemanusiaan bukan sekadar menyalurkan bantuan kepada penyintas bencana. Lebih dari itu, respons kemanusiaan harus mampu memperkuat kapasitas masyarakat untuk bangkit, pulih, dan melanjutkan kehidupan mereka dengan bermartabat.
Di tengah sisa lumpur yang masih menempel di sudut-sudut permukiman, semangat gotong royong warga menjadi simbol kekuatan yang sesungguhnya. Bersama-sama mereka membersihkan lingkungan, memulihkan sumber air, dan membangun kembali harapan yang sempat tergerus bencana.
Kisah pemulihan di Pidie Jaya dan Aceh Utara menunjukkan bahwa ketika masyarakat diberikan ruang, dukungan, dan kesempatan untuk bergerak bersama, gotong royong tidak hanya menjadi budaya, tetapi juga menjadi kekuatan utama dalam membangun kembali kehidupan setelah bencana.